Cerpen

Hidup Yang Bermanfaat..

Kuhadapkan hati kehadirat ilahi, yang Maha segala-galanya karena aku hidup dan mati sudah diatur oleh-Nya..

Oh…kenapa aku kadang sering lupa..dan baru tersadar setelah mendapatkan kenikmatan dari-Nya

Dasar manusia (saya) masih sering lupa dari pada ingatnya

Tapi saya tetap bersyukur, masih diberi kesadaran untuk selalu mengingat kebesaran-Nya.

Kesempatan demi kesempatan kadang silih berganti menghampiri, terlepas kesempatan itu baik ataupun tidak baik.

Yang penting makna hidup sebenarnya sudah aku ketahui…

Hidup itu hanya satu tujuan saja, mengabdi keharibaan sang pencipta

Proses panjang akan kita lalui…

Peduli terhadap sesama (manusia)..cerminan dari pengabdian diri

Apalah guna hidup 1000 tahun tapi tidak bermakna dan manfaat…

Lebih baik hidup sehari…tapi bermakna dan manfaat…

Tuhan….jadikan aku dikala tidak ada, orang bimbang/susah..

dan jadikan aku dikala ada, orang akan merasa senang/tentram…

Pemaknaan hidup yang hakiki…oh..hakiki…

Datanglah engkau ke pelukanku…

bersambung….

Sejarah Islam

Desember 26, 2007

Islam muncul di Jazirah Arab pada kurun ke-7 masehi ketika Nabi Muhammad s.a.w. mendapat wahyu dari Allah s.w.t. Setelah kematian Rasullullah s.a.w. kerajaan Islam berkembang sejauh Samudra Atlantik di Barat dan Asia Tengah di Timur. Lama-kelamaan umat Islam berpecah dan terdapat banyak kerajaan-kerajaan Islam lain yang muncul.Namun demikian, kemunculan kerajaan-kerajaan Islam seperti kerajaan Umayyah, kerajaan Abbasiyyah, kerajaan Turki Seljuk, Kekhalifahan Ottoman, Kemaharajaan Mughal India, dan Kesultanan Melaka telah menjadi kerajaaan yang terkuat dan terbesar di dunia. Tempat pembelajaran ilmu yang hebat telah mewujudkan satu Tamadun Islam yang agung. Banyak ahli-ahli sains, ahli-ahli filsafat dan sebagainya muncul dari negeri-negeri Islam terutamanya pada Zaman Emas Islam.Pada kurun ke-18 dan ke-19 masehi, banyak kawasan-kawasan Islam jatuh ke tangan penjajah Eropa. Selepas Perang Dunia I, Kerajaan Ottoman yaitu kekaisaran Islam terakhir tumbang menyembah bumi.

[sunting] Nabi Muhammad s.a.w.

Artikel utama: Muhammad

Jazirah Arab sebelum kedatangan Islam merupakan sebuah kawasan yang tidak maju. Kebanyakkan orang Arab merupakan penyembah berhala dan ada sesetengahnya merupakan pengikut agama Kristian dan Yahudi. Mekah ialah tempat suci bagi bangsa Arab ketika itu karana di situ terdapatnya berhala-berhala agama mereka dan juga terdapat Telaga Zamzam dan yang paling penting sekali Kaabah.

Nabi Muhammad s.a.w. dilahirkan di Mekah dalam Tahun Gajah (570 atau 571 masihi). Beliau merupakan seorang anak yatim sesudah ayahnya Abdullah dan ibunya Aminah meninggal dunia. Beliau dibesarkan oleh pamannya yaitu Abu Talib. Baginda kemudiannya kawin dengan Siti Khadijah dan menjalani kehidupan yang selesa dan aman.

Namun demikian, ketika Nabi Muhammad s.a.w. berusia lebih kurang 40 tahun, beliau didatangi oleh Malaikat Jibril a.s. Sesudah beberapa waktu beliau mengajar ajaran Islam secara tertutup kepada rekan-rekan terdekatnya dan seterusnya secara terbuka kepada seluruh penduduk Mekah.

Pada tahun 622 masihi, baginda dan pengikutnya berhijrah ke Madinah. Peristiwa ini dipanggil Hijrah. Semenjak peristiwa itu bermulalah Kalendar Islam.

Mekah dan Madinah kemudiannya berperang. Nabi Muhammad s.a.w. memenangi banyak pertempuran walaupun ada di antaranya tentera Islam yang tewas. Lama kelamaan orang-orang Islam menjadi kuat dan berjaya membuka Kota Mekah. Selepas kewafatan Nabi Muhammad s.a.w., seluruh Jazirah Arab di bawah penguasaan orang Islam.

[sunting] Islam di Indonesia

Islam telah dikenal ke Nusantara atau Indonesia pada abad pertama Hijriyah/7 Masehi, meskipun dalam frekuensi yang tidak terlalu besar melalui perdagangan dengan para pedagang muslim yang berlayar ke kawasan ini singgah untuk beberapa waktu. Pengenalan Islam lebih intensif, khususnya di Semenan­jung Melayu dan Nusantara, berlangsung beberapa abad kemudian.

Bukti peninggalan pertama arkeologi Islam di Asia Tenggara adalah dua makam muslim yang berangka tahun sekitar akhir abad ke-11M di dua tempat yang sebenarnya agak berjauhan, di Padurangga (sekarang Panrang di Vietnam) dan di Leran, Gresik, Jawa Timur). Makam di Gresik adalah makam Fatimah binti Maimun, berangka tahun 1082M, yang diperkirakan adalah putri raja Gedah (Kedah).

Bunga dan Kupu-kupu

Desember 26, 2007

 

Seperti lelap aku. Suara-suara itu adalah hantu. Mereka terlalu bising dan aku mencoba untuk tidak mendengar apa yang mereka ributkan. Selalu saja, meraka datang saat aku melepas penatku menjadi beraian impian yang punah sebelum fajar. Lalu saat sadarku bertautan, mereka lenyap, tak bertanggung jawab, menghadirkan insomnia yang berkepanjangan.

“Apa-apaan ini?” tanya suara bariton di ujung sana, disusul hantaman keras benda tumpul di meja.

“Kamu tidak terima? Iya, tidak terima? Memang kamu bisa apa?” Lengkingan suara lain bernada sopran menggertak parau. Ada kekesalan dan rasa tidak hormat yang menyembul jelas diantara kepingannya. Lalu bariton itu mulai mendesakkan cacian yang tak kalah pedas, disambut balasan yang setimpal untuk tiap-tiap diksi. Mereka meracau dan aku tak dapat lagi mendengar jelas.

Suara-suara itu hadir pertama kali saat aku menyenangi kupu-kupu dan bunga. Bentuknya bagus-bagus dan warnanya indah-indah. Saat melihat seekor kupu-kupu menyentuhkan sayapnya pada kelopak bunga, warna yang dimiliki keduanya berbaur hingga aku tak tahu mana yang lebih indah. Saat itu aku membayangkan bahwa kupu-kupu dapat membuat bunga terlihat lebih cantik, dan sebaliknya. Aku suka saja membiarkan pemandangan itu bergolak dibawah sinar matahari. Lalu aku semakin senang menghabiskan malam dengan membayangkan kupu-kupu dan bunga di tempat tidur, untuk bangun pagi-pagi keesokan harinya dan menyaksikan sendiri keduanya bercengkerama.

Tapi itu tak berlangsung lama. Ayah memotong bunga milik si kupu-kupu, dan tak lagi membiarkannya tumbuh. Aku berteriak dan menangis tersedu-sedu ketika tangkai yang telah terpotong itu tergeletak pasrah di tanah. Namun ayah justru semakin marah melihatku demikian, kemudian beliau menamparku. Aku terjatuh ke belakang. Rasanya sakit, namun tak sesakit perasaanku ketika tahu aku kehilangan bunga milik si kupu-kupu. Aku tahu, kehilangan si bunga, berarti kehilangan si kupu-kupu. Aku takut tak dapat lagi membayangkan keduanya bercengkerama ketika suara-suara itu mengangguku di tempat tidur dari kejauhan.

Dulu mereka tidak datang tiap malam, hanya kadang-kadang saja. Tetapi begitu mereka datang, selalu saja aku ketakutan, sangat takut! Takut yang tidak seperti kalau aku ditakuti teman-temanku akan wewe gombel, pocong, atau endhas glundung. Tapi rasa takut itu mengendap di otakku, menggerogotinya dari dalam, kemudian meninggalkan aku tanpa kehidupan. Seperti mimpi yang menyeramkan, tapi nyata, dan mimpi itu selalu ada di sana dan membuatku tak tenang.

Suara-suara itu begitu menusuk telingaku, betapapun lirihnya. Kalau sudah begitu, aku akan memejamkan mata erat-erat, bahkan menutupnya dengan bantal, lalu membayangkan bunga dan kupu-kupu. Pelan-pelan suara itu tak terdengar, dan aku tak lagi menjumpai suara suara itu keesokan harinya, dalam jangka waktu yang lumayan lama.

Dan ketika ayah memotong bunga itu, hatiku hancur. Bagaimana mereka akan menyelamatkan aku dari suara-suara itu? Aku tak dapat lagi memandangi mereka, dan bayangan mereka terkubur bersama waktu yang menghimpitku dengan surasuara yang makin sering hadir tiap malam.

Mula-mula aku menggigil. Aku memejamkan mata erat-erat, namun yang keluar justru air mata. Lalu aku mulai mereka-reka, membalik dari sekian ingatan bentuk dan warna bunga dan kupu-kupu. Ketika kutemukan, aku menciptakan ruang baru di ke-palaku untuk mereka berdua. Suatu ruang yang hampa, gelap, dan dingin. Hanya bentuk baku dan warna-warna yang menjadi kusam milik mereka yang mampu kulukiskan. Semula aku menangis karena aku tak dapat menghadirkannya dengan sempurna. Aku sedih sekali. Bunga dan kupu-kupu itu menjadi buruk dan tidak hidup, mengingatkanku pada film zombie yang kulihat bersama ayah ketika aku tidak bisa tidur dan ibu belum pulang. Waktu itu ayah kutanya, kemana ibu? Beliau mendengus dan berkata kasar; ‘ibumu tak tahu diri, kerja terus, keluarga tak diurus’. Aku tak mengerti. Aku ketakutan. Zombie-zombie yang ada di TV memakan manusia. ‘Pengecut!’ lagi-lagi ayah mendengus.

Dan bayangan zombie itu membentuk kerangka yang kupakai melukiskan bunga dan kupu-kupu. Begitu pucat dan menakutkan. Tak hentihentinya aku menangis, bermalam-malam, dan suara-suara itu semakin bising. Hingga aku lelah dan tertidur. Lalu ketika esok dan esoknya lagi aku membayangkan bunga dan kupu-kupu, bayangan yang kucipta semakin kabur dan la-ngu. Semakin pucat, tak berwarna, bahkan bunga itu terlihat seperti bangkai yang dihinggapi sesuatu mahluk dengan bentuk sayap yang tidak beraturan. Tercabik di sana-sini, dan kusam. Tetapi aku tak lagi menangis.

Rumahku penuh orang. Beberapa di antaranya berseragam sedang yang lain berjubel di pintu. Saling berebut mengintip ke dalam dan berbisikbisik. Aku melihatnya dengan senang. Takpernah ada banyak orang mengunjungi rumahku, dan mereka semua begitu berwarna. Tidak! Tidak seperti bunga dan kupu-kupu yang dulu ku tahu. Mereka seperti badut yang kulihat di tv, dan membuatku takut. Dulu. Sekarang aku tak takut apaapa lagi. Aku tak mau ayah menyebutku pengecut, sehingga menamparku dan aku akan kehilangan bunga dan kupu-kupu itu sekali lagi. Kali ini dari kepalaku, dengan bentuk dan warna yang sudah sama sekali berbeda. Tetapi yang penting aku masih memilikinya. Dan badut-badut bersuara lebah itu tak akan mampu membuatku takut, atau menangis. Mereka tak akan sanggup mengambil apa yang kini hanya boleh kumiliki sendiri
“Kau dengar aku?” Suara keras di telingaku datang tiba-tiba dari salah seorang yang berseragam. “Perhatikan aku, to-long!” Sungguh tak sopan, ia minta tolong tapi ia membentakku. Aku memandangnya. Dia bukan badut dan tak cukup pucat un-tuk menjadi zombie. Hm… ku kira aku masih harus mencari tahu, apa orang ini!

“Di mana kau malam itu?” Malam itu? Apa yang dia tanya-kan? Apakah dia meanyakan bunga dan kupu-kupu milikku yang selalu kutemui tiap malam? Oh tidak, janganjangan dia orang yang akan mengambil mereka dariku. Tak akan kubiarkan.
“Jangan diam saja! Katakan, dimana kau malam itu?” Orang berseragam ini sungguh tak sopan. Dia membentak-bentakku di hadapan orang banyak. Mungkin ia tak pernah diajarkan sopan santun. Tapi ia punya bentuk muka yang aneh. Hidungnya terlalu besar dan ia seakanakan mampu makan apa saja. Sejenis sapi mungkin. Ia pasti pemamah biak. Semakin kuperhatikan, ia semakin memaki. Tapi aku tak mendengar apa yang diucapkannya padaku. Mukanya terlalu aneh. Jadi, kupikir ia tak akan sanggup mengambil bunga dan kupu-kupu milikku.

Akhirnya, ketika ia mulai terlihat lelah, seseorang berkata padanya, “bawa saja ia ke psikiater! Mungkin ia bahkan tak tahu bahwa ibunya yang pelacur itu telah dibunuh ayahnya.”

 

Lelaki Yang Menulis Surat

Desember 26, 2007

 

 

KEKASIHKU,

Adakah yang lebih menyiksa daripada kesepian? Kau pasti heran, atau bahkan tak percaya, bagaimana di kota yang hingar-bingar ini aku bisa merasakan kesepian yang teramat kejam mengoyak-ngoyak perasaan. Atau mungkin kau berpikir, “kegilaanku yang sediakala” datang dan menyerang. Tidak Sayang, aku tak segila dulu meskipun melankoli yang menjebakku kali ini jauh lebih dahsyat daripada yang dulu. Apakah kau masih selalu mengatakan, “Lelaki tak boleh melankolis!”? Ah, seandainya kau jadi lelaki, niscaya kau mengenal dengan baik makhluk yang bernama melankoli itu: ia tak berjenis kelamin dan karena itu bisa memesrai baik perempuan maupun lelaki.

TUUUTT… tutt… tuuuutt….

Lelaki itu menghentikan tarian jemarinya pada keyboard laptopnya. Bunyi telepon itu mengganggu.

“Hallo?”

“Maaf, Pak. Pak Agus dan Pak Arief mau meng-hadap. Apakah Bapak bersedia menerima?”

“Suruh mereka masuk.”

Pintu dibuka. Dua orang lelaki masuk. Lalu mereka bertiga duduk berhadapan di sofa, me-ngelilingi sebuah meja pualam kecil, di bagian lain ruangan itu.

“What’s the monster, Men?”

Lelaki itu selalu menyebut masalah yang tak terselesaikan di newsroom dan tak bisa didiskusikan secara interaktif di komputer dengan kata “monster”.

Pak Agus, Kepala Redaksi di perusahaan pe-nerbitan itu, menjawab.

“Laporan yang akan kita turunkan minggu depan, Pak. Ternyata masih menimbulkan polemik di jajaran redaksi.”
Pak Arief, Redaktur Pelaksana, segera menyerahkan berkasnya.

Lelaki itu membaca naskah setebal 12 halaman tersebut dengan cepat. Ia segera mafhum apa yang menjadi “monster”.
“It’s a big monster,” desisnya.

Lalu, “Bagaimana kalau kita ganti saja dengan tema lain?”

“Tidak mungkin, Pak.” Mereka menjawab hampir bersamaan.

Pak Arief segera menyambung, “Semua media menurunkan masalah ini, dengan perspektif ke-pentingan mereka masing-masing. Apa Bapak ingin kita ketinggalan?”

“So, what’s our interest?”

Mereka menjawab lagi-lagi hampir bersamaan, tapi setengah bergurau.

“Mencerdaskan bangsa berdasarkan Pancasila.”

Semua terbahak. Paras lelaki itu sampai memerah. Di matanya air menggenang. Ia suka sekali gurauan itu rupanya.
Buru-buru ia mengusap mata dan wajahnya dengan sapu tangan. Setelah emosinya mereda, ia baru bicara.

“Dengan mengungkap fakta sejelas-jelasnya, kita akan dengan mudah dituduh tidak mempertimbang-kan kepentingan pihak pemilik modal perusahaan ini. Semua fakta jelas-jelas menyudutkan dia. Tapi jika kita menutupinya, pembaca akan meninggalkan kita. Dan di era euforia reformasi ini, kita akan jadi bahan tertawaan ‘rekan-rekan sesama wartawan’. Jadi, kita pilih jalan tengah saja. Fakta tetap harus diungkap sedetil-detilnya, tapi kita sertakan juga konteks sosial-politik yang melatarbela-kanginya, sehingga tampak seolah-olah bos kita itu melakukannya karena memang ‘mau tak mau’. Sistem yang mendorong dia melakukan itu yang kita persalahkan. See, Men?”

Pak Agus dan Pak Arief manggut-manggut. Mereka sepakat, itu adalah alternatif terbaik di antara pilihan-pilihan yang semuanya buruk.

Setelah dua orang bawahannya itu me-ninggalkan ruangan, lelaki itu kembali menghadapi layar laptop-nya dan meneruskan pekerjaannya.

KEKASIHKU, perempuanku,

Tentu sekarang kau masih mengenalku sebaik kau mengenalku dulu: lelaki yang keras kepala dengan sekeranjang ambisi; keranjang itu ia beri nama “idealisme”. Ketika kita pacaran di semasa kuliah 35 tahun yang lalu, aku selalu bangga dan bahagia mendengarmu menyebutku begitu. Bukan sebutan, yang selalu kauulang dengan nada setengah mengejek, itu yang sesungguhnya terasa mem-bahagiakan. Tapi kenyataan di baliknya: kau mengenalku lebih dari aku mengenal diriku sendiri. Dan sekarang, setelah 35 tahun, bagaimanakah kau membayangkan diriku?

Keranjang idealisme itu perempuanku, masih kupikul meski warnanya tak seterang dulu. Maklumlah, waktu 35 tahun lebih dari cukup untuk mengubah apa pun. Apalagi buah-buahan di dalam keranjang itu. Ada yang habis kumakan setelah ranum. Ada yang tak sempat kumakan sehingga membusuk dan digerogoti ulat-ulat. Ada juga yang dari dulu tak kunjung masak. Tapi ada juga yang setelah masak dan kumakan tak habis-habis sehingga menjadi menu harian yang akhirnya membosankan.
Yang terakhir itu, kau tahu, ialah pekerjaanku sekarang. Tuhan menciptakan dunia dengan Takdir-Nya. Dan wartawan membangun kembali dunia itu dengan pena. Bila Tuhan yang mengatur segala kejadian, wartawanlah yang berwenang menentukan mana peristiwa yang sebaiknya direnungkan dan mana yang harus dilupakan. Wartawan, kukira semula, dapat menjadi nabi: pembantu Tuhan di bumi yang bertugas menjabarkan kehendak-Nya kepada umat manusia setelah rasul tak ada lagi. Betapa mulia tugas itu, namun betapa naif perkiraanku.

Bergelut dengan satu pekerjaan selama 30 tahun membuatku berpikir kembali, benarkah jurnalistik berguna bagai nubuwat. Ada sekelumit sinisme di situ, yang timbul dari jarak: kebosanan, mungkin ke-lelahan. Ya kekasihku, apa sebenarnya guna “membangun kembali dunia denga pena”? Untuk mencerdaskan bangsa? Aku sudah lama tidak percaya dengan omong kosong besar itu. Hari-hari wartawan semakin mengukuhkan diri sebagai pe-dagang, bukan pendidik. Ia menjual setiap kata yang disusun berdasarkan fakta, setiap kata yang telah dimiskinkan dari makna, setiap kata yang nyaris hampa belaka, setiap kata yang akhirnya juga tidak bisa dipercaya. Kata-kata wartawan adalah slogan dan bukan puisi–sebab siapakah yang masih sudi membeli puisi? Hi-dup di tengah-tengah kubangan kata-kata yang seperti itu, aku sering kehilangan puisi, suara-suara Hidup yang murni. Alangkah sepi ke-kasihku, alangkah kosong hidup ini tanpa puisi.

TUUUTT… tutt… tuuutt….

Telepon itu mengganggu lagi.

“Hallo?”

“Telepon dari ibu, Pak. Beliau ingin bicara.”

“Ya, sambungkan.”

“Hallo, Papa?”

“Apa kabar, Ma?”

“Baik. Sedang apa sih Papa, kok mematikan handphone segala?”

“Ow, sorry Mom. Papa lagi menulis. It’s really important.”

“O ya. Apa kita bisa makan bersama siang ini? Papa enggak ada janji kan?”

“Mm, sebentar. Papa lihat jadwal dulu. Ya, bisa. Ada apa sih Ma, ‘ngajak makan siang bareng segala?”

“Anu, mama nanti malam ada meeting di Bandung. Jadi, enggak bisa ‘nemani Papa makan malam.”

“Di mana kita ketemu?”

“Di tempat biasa aja Pa. Mama sudah pesan meja kok.”

“Okey, pukul 12.15 di tempat biasa.”

“Da, Papa.”

Lelaki itu mengecupkan kedua bibirnya satu sama lain.
Begitu istrinya memutuskan sambungan, ia langsung menekan tombol bicara yang meng-hubungkannya dengan sekretarisnya.

“Saya, Pak?”

“Laksmi, kita enggak jadi makan siang bareng. Bagaimana kalau makan malam? Atau, kamu sudah ada janji?”

“Tidak, Pak. Tidak ada janji.”

“Okey, aku pesankan taksi buat menjemput kamu pukul tujuh nanti. Kita ketemu di tempat biasa.”

Lalu lelaki itu kembali menulis.

KEKASIHKU, perempuanku, cintaku,
Rupanya aku telah menabung kesepian sejak kita berlpisah 30 tahun yang lalu. Sejak kau pergi dari sisiku dan aku pergi dari sisimu, tak ada apa atau siapa yang bisa membantuku melawan kesendirian. Beberapa tahun kemudian aku memang menikah. Mulanya aku mengira rumah tangga adalah sorga, seperti keluarga kakek-nenek kita di desa dulu. Tapi lama-lama aku tahu, di kota macam ini pernikahan adalah jalan kecil dan licin di antara sorga dan neraka menuju ke entah. Jika tergelincir, kita segera jatuh ke neraka. Maka aku mencari apa pun atau siapa pun yang bisa mengalahkan kesepianku di mana saja: pub-pub, kamar-kamar hotel, taman-taman kota. Dan, kau tahu, tak ada.

Begitulah, sampai hari ini aku masih mencari, bahkan ke dalam mimpi. Tapi mimpi-mimpiku selalu hanya berupa sisa-sisa catatan seorang wartawan yang tak sempat dipublikasikan: detil data tentang konspirasi di balik kerusuhan-kerusuhan, caci-maki seorang kiyai, perkawinan gelap seorang menteri, pengakuan gadis keturunan yang diperkosa delapan ten…. Ya, seperti itulah mimpi-mimpiku. Hal-ihwal yang sangat bagus dan berarti bagi seorang wartawan, tapi yang bagiku sekarang sungguh-sungguh memuakkan. Barangkali sudah waktunya aku pensiun. Aku ingin menulis perkara-perkara yang sederhana. Aku akan menulis bagaimana alam mengatur letak batu-batu di sungai kecil di desa sehingga gemericik air itu begitu enak di telinga dan riak-riaknya begitu sedap di mata. Aku akan menulis tentang prasangka jangan-jangan warna laut yang coklat kehitam-hitaman di pantai-pantai kota kita dapat menimbulkan persepsi estetis baru, sensasi baru. Dan tentu saja aku akan menulis puisi seperti dulu, mencuri-curi sisa-sisa aksara yang belum ternoda.

LELAKI itu berhenti menulis. Diteguknya kopi yang mulai dingin pada cangkir keramik biru abu-abu itu. Disulutnya sebatang rokok. Lalu tangannya meraih remote-control dan menyalakan televisi. Gambar-gambar bergerak di depan layar kaca itu: film India. Ia mendengus. Dari mulutnya keluar semacam umpatan dengan suara yang tak teramat jelas, “Huh, pagi-pagi sudah film India.”

Hampir saja ia mematikan televisi itu ketika di layar seorang perempuan membuka pintu kamar pelan-pelan. Paras perempuan India itu, juga caranya membuka pintu, mengingatkannya pada seseorang.

Setelah gambar berganti, ia baru menekan tombol power-off pada remote-control di tangan kirinya. Memori otaknya bekerja membuka file dengan nama tempat dan tanggal: New Delhi, 25 Desember 1995. Ia, bersama seorang perempuan muda asal Pakistan, berbicara di sebuah simposium tentang Jurnalisme dan Feminisme. Lalu di antara mereka terjadi per-kenalan. Lalu semacam keintiman. File-file lain pun terbuka dan tertutup silih berganti di benaknya, tentang pertemuan-pertemuan, tetapi bukan simposium.

Sudah 5 bulan 12 hari ia tak bertemu dengan perempuan itu. Tiba-tiba lelaki itu merasakan se-macam kerinduan bergolak di dadanya. Ia ingin meneleponnya. Tapi ketika jarinya siap menekan angka-angka di telepon (otaknya menghafal dengan baik nomor telepon sebuah LSM di New York, tempat perempuan itu biasa berada), ia malah ber-alih ke keyboard laptop-nya dan menyelesaikan suratnya.

KEKASIHKU, satu-satunya yang bisa memahami dan mencintaiku,

Datanglah padaku. Beri aku keberanian. Akan kutinggalkan tahta di kerajaan pers ini. Aku tak ingin jadi raja. Aku tak bisa. Aku akan pulang ke rumahmu. Datanglah. Beri aku kekuatan. Akan kutanggalkan segenap popularitas ini. Aku mabuk. Aku akan tidur dalam selimutmu saja. Datanglah padaku. Beri aku cinta. Biar kualirkan seluruh sisa hidupku ke kakimu. Datanglah. Aku hanya bisa mencintaimu.

LELAKI itu merasakan kelegaan yang luar biasa begitu kalimat terakhir itu selesai ditulis.

Lalu ia tercenung, lama sekali.

Lalu ia menghapus file surat itu.

Lalu hatinya hati-hati bertanya, “Di manakah kamu kekasihku? Siapakah kamu?

 

4 Tanggapan ke “Cerpen”

  1. sdnsumbersari1malang Berkata:

    ternyata pak azhar jago bikin cerpen ya?
    ajarin dong.
    saya sudah lm g nulis. inspirasinya sering terhambat.
    oya, pak, terimakasih byk atas bimbingan saat pelatihan jardikna.
    see you next time

    Arleosukma (guru SD sumbersari 1 malang)

  2. Baderiani Berkata:

    PAkkk… tulisannya baguss… :)

  3. SARY Berkata:

    BUKUNYA KEREN BANGEZT

  4. SARY Berkata:

    GUE SARY ANAK KEPUH PAPAR KEDIRI SUMPAH BAGJES(BAGUS)BANJET(BANGET)NIH BUKU

Tinggalkan Balasan