MERENUNGI KEMBALI 10 NOPEMBER

November 10, 2009

Setelah tewasnya Brigadir Jendral AWS Mallaby, kemudian pimpinan tentara sekutu pada tanggal 9 Nopember 1945 mengeluarkan ultimatum yang berisi semua pimpinan dan orang-orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat-tempat yang telah di tentukan dan selanjutnya menyerahkan diri dengan mengangkat tangan diatas kepala. Ultimatum itu tidak dihiraukan rakyat Surabaya walaupun deadline yang diberikan hanya sampai pukul 06.00 tanggal 10 Nopember. Waktu itu Arek-arek Surabaya bukannya mengikuti apa kata penjajah melainkan mereka bersatu menentang dan menyerang para penjajah dengan senjata seadanya. Bung Tomo salah seorang pemimpin perjuangan rakyat Surabaya, dengan suara yang menggeledek laksana halilintar mampu membakar semangat para pejuang untuk membasmi penjajah yang mencoba merampas Surabaya. Pertempuran berjalan tidak seimbang, tetapi karena semangat tekad dan perjuangan yang membara, Surabaya berhasil direbut oleh oleh arek-arek suroboyo walaupun tidak sedikit dari mereka yang gugur dalam pertempuran sebagai kusuma bangsa. Dan pemerintah kemudian menetapkan bahwa tanggal 10 Nopember adalah “ Hari Pahlawan “.

Saudaraku, itulah sepenggal kisah dari peristiwa 10 Nopember yang sebentar lagi akan kita peringati. Momentum ini bukanlah sekedar seremonial belaka. Momentum yang kini berusia 63 tahun sejak peristiwa pertempuran Sabtu pagi, 10 November 1945, di Surabaya, dijadikan simbol pengorbanan pahlawan seluruh tanah air. Di dalamnya terkandung sejarah yang patut dihayati sebagai bagian dari proses transformasi pelestarian nilai-nilai kejuangan dan kepahlawanan. Lantas bagaimana nilai dan citra keteladanan yang telah ditunjukkan para pahlawan, pejuang dan perintis kemerdekaan dilestarikan, dihayati dan diamalkan segenap masyarakat khususnya generasi muda? Baca entri selengkapnya »