Kiat Moechsin-Muzayyanah Pertahankan Kualitas Bakso

Usaha BaksoTidak mudah meraih sukses dalam bisnis. Tapi, para orang bijak bilang, mempertahankan kesuksesan lebih sulit. Apalagi, bila bisnis yang ditekuni tergolong banyak pesaing. Bisnis makanan, misalnya.

Karena itu, beragam upaya dilakukan pelaku bisnis makanan untuk mempertahankan kesuksesan mereka. Itu pula yang dilakukan H Moechsin Imam Mawardi dan Hj Muzayyanah. Pemilik usaha Bakso Sapi dan Es Teler Tanjung Anom itu selalu berupaya menjaga kualitas dan cita rasa produk mereka agar terus unggul daripada produk sejenis yang ditawarkan orang lain. “Kami berusaha selalu meningkatkan mutu dan cita rasa,” kata Moechsin.

Untuk mempertahankan bahkan meningkatkan keunggulan produk mereka itulah, Moechsin selalu ”mengintai” warung yang menyajikan menu sejenis. Tujuannya, membandingkan menu andalannya dengan menu andalan warung lain. “Tiap kali mendengar ada bakso yang terkenal dan ramai pembeli, saya selalu mencobanya,” tutur kakek dua cucu tersebut.

Bila warung bakso itu di dalam kota, pasangan yang dikaruniai empat anak itu biasanya tidak datang sendiri ke warung tersebut. Dia mengirim pegawainya. Alasannya, agar tidak dikira ingin meniru resep mereka. “Setelah mencicipi bakso itu, kami mendiskusikannya,” ujar pria 55 tahun tersebut.

Yang mereka diskusikan, menurut Moechsin, tidak hanya rasa. Moechsin dan Muzayyanah juga membicarakan keunggulan dan kekurangan menu warung tersebut. “Kami juga sering menebak-nebak bumbu apa saja yang mereka gunakan serta perbandingan daging dan bahan lain,” sambung mantan driver di perusahaan rokok ternama itu.

Kegiatan ”mengintai” produk bakso andalan pengusaha lain itu, lanjut Moechsin, juga dimaksudkan sebagai studi banding. Tujuannya, mengetahui cita rasa bakso untuk kalangan bawah, menengah, dan atas. Studi banding itu juga dimanfaatkan sebagai sarana menentukan harga yang cocok untuk bakso dagangannya.

Misalnya, bakso dari depot A dengan rasa begitu dihargai sekian. Berdasar itu, Moechsin memperkirakan harga yang pas untuk bakso dan es dengan rasa cita rasa khas yang mereka tawarkan. ”Dengan membeli langsung, kita kan jadi tahu rasa dan harga bakso tersebut,” tuturnya.

Kebiasaan unik itu, rupanya, tidak hanya dilakukan Moechsin untuk warung-warung bakso di dalam kota. Dia juga sering berburu bakso laris di luar kota. Biasanya, Moechsin melakukan itu bila ada pelanggan yang mengatakan baru mencicipi bakso enak di sebuah kota.

Bojonegoro, Babat, Lamongan, dan Tuban pernah dijelajahi Moechsin untuk berburu bakso. Yang paling sering ke Bojonegoro atau Tuban. “Setelah berburu bakso, kalau ada kesempatan, kami mampir ke tempat kerabat,” ujar lelaki kelahiran Bojonegoro tersebut.

Masih urusan menjaga cita rasa, Moechsin dan istri sampai sekarang menangani sendiri urusan dapur. “Untuk bumbu dan bahan bakso, kami tangani sendiri. Urusan bumbu, istri saya yang menangani,” tuturnya.

Muzayyanah memang selalu meracik bumbu sendiri. Dia tidak pernah menyerahkan kepada orang lain. Bukan tidak percaya. Menurut dia, itu dilakukannya semata-mata untuk menjaga mutu dan rasa. “Sekali pelanggan kecewa dengan cita rasa bakso kami, mereka pasti tidak akan datang lagi. Bahkan, mungkin saja mereka lantas bicara ke pelanggan lain. Kami tidak mau itu,” katanya. (Source: www.jawapos.co.id Edisi Evergreen Rabu, 28 Oktober 2009).

Mempertahankan itu sulit, tapi kalo kita bisa menjaga dan mempertahankan mutu dan kualitas (apa saja usaha kita) pasti tidak akan ada cerita usaha kita ditinggalkan oleh konsumen (pelanggan).  Bravo Enterpreneur…..

Tinggalkan Balasan